Masyarakat adat di wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua telah lama menjalankan tradisi Sasi, sebuah larangan sementara terhadap pemanenan hasil laut dan hutan. Tradisi ini terbukti efektif dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam.
Kini, warisan budaya berharga ini diabadikan dalam sebuah buku elektronik berjudul “Papua dan Sasi: Tradisi Leluhur untuk Kehidupan”. Buku digital ini hasil kolaborasi Konservasi Indonesia (KI) bersama para penggerak Sasi di BLKB dan mitra pembangunan.
Konservasi Berbasis Masyarakat Adat
Buku “Papua dan Sasi” mendokumentasikan berbagai praktik Sasi, seperti Kerakera di Fakfak, Nggama di Kaimana, dan Egek di Tanah Moi. Dokumentasi ini mencakup prosesi ritual, pendataan hasil, dan pemanfaatan sumber daya secara bijak.
Konservasi Indonesia, sebagai yayasan nasional yang mendukung pembangunan berkelanjutan, berperan penting dalam pembuatan buku ini. Direktur Strategi Konservasi Papua KI, Meity Ursula Mongdong, menyebutnya sebagai bentuk penghargaan atas pengetahuan lokal.
Buku ini bukan hanya dokumentasi, tetapi juga pembelajaran berharga. Hal ini disampaikan Meity dalam keterangan tertulis yang diterima Lifestyle Liputan6.com pada Selasa (10/6/2025).
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan (P2KP) Papua Barat Daya, Absalom Solossa, juga memberikan apresiasi tinggi. Ia melihat buku ini sebagai tonggak penting dalam menjaga identitas budaya dan ekologi Papua.
Pertemuan Pelaku Sasi
Peluncuran buku “Papua dan Sasi” bertepatan dengan pembukaan Lokakarya Jejaring Sasi di BLKB Papua. Lokakarya ini dihadiri lebih dari 40 peserta dari berbagai kabupaten di Papua Barat Daya.
Achmad Biaruma, salah satu penggerak Sasi dari Kampung Ugar, Kaimana, mengungkapkan kebanggaannya. Ia merasa warisan leluhurnya kini terdokumentasi dengan baik dan dapat dipelajari generasi muda.
Pertemuan para pelaku Sasi ini bertujuan memperkuat kolaborasi dan meningkatkan kapasitas mereka. Dukungan diberikan oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dan mitra pembangunan seperti YKAN dan WWF Indonesia.
Lokakarya ini merupakan tindak lanjut dari pengukuhan Jejaring Sasi pada akhir 2023. Hal tersebut diungkapkan oleh Mohammad Nasir Aituarauw, penggerak utama Jejaring Sasi BLKB dan Raja Kumisi dari Kaimana.
Upaya Melindungi Alam
Data Konservasi Indonesia tahun 2025 mencatat 72 lokasi Sasi seluas 75.691 hektare di tiga provinsi. Sebanyak 63 lokasi Sasi berada di dalam kawasan konservasi perairan.
BLKB memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi, menjadi rumah bagi ribuan spesies. Lebih dari 5,2 juta hektare laut di BLKB merupakan kawasan konservasi, berkontribusi besar pada upaya konservasi nasional.
Buku elektronik “Papua dan Sasi” dapat diakses melalui situs web Konservasi Indonesia di https://konservasi-id.org/papua-dan-sasi-tradisi-leluhur-untuk-kehidupan. Buku ini diharapkan dapat menginspirasi generasi mendatang untuk melestarikan tradisi Sasi.
Melalui buku digital ini dan kegiatan lokakarya, upaya pelestarian tradisi Sasi dan perlindungan lingkungan di BLKB Papua semakin terdukung. Kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah, dan lembaga konservasi menjadi kunci keberhasilannya.
