Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI terus bergerak cepat melakukan pembenahan internal di tengah perkembangan pesat dunia farmasi global. Salah satu langkah strategisnya adalah dengan melantik pejabat baru di posisi kunci pengawasan obat dan zat adiktif.
Pelantikan ini menandai komitmen BPOM dalam memperkuat pengawasan, terutama menghadapi tantangan besar perubahan tren industri farmasi global.
Pelantikan Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, dan Zat Adiktif
Pada Jumat, 13 Juni 2025, Kepala BPOM, Taruna Ikrar, melantik William Adi Teja sebagai Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif (Deputi 1).
William menggantikan Rita Mahyona yang telah memasuki masa purnabakti. Pelantikan tersebut berlangsung di Gedung Bhinneka Tunggal Ika BPOM, dihadiri pejabat tinggi BPOM.
Tantangan Pengawasan di Era Industri Farmasi Modern
Posisi Deputi 1 sangat strategis dalam pengawasan BPOM. Perannya krusial mengingat pergeseran industri farmasi global dari obat kimia sintetis ke produk biologi.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyoroti tantangan ini dalam sambutannya. Perkembangan produk biologi membawa potensi pemalsuan obat yang membahayakan masyarakat.
Oleh karena itu, BPOM perlu meningkatkan pengawasan untuk memastikan masyarakat mengakses obat aman, bermutu, dan berkhasiat.
Pergeseran Industri Farmasi dan Risiko Pemalsuan
Pergeseran ke produk biologi menciptakan tantangan baru dalam pengawasan. Teknologi dan metode pengawasan perlu terus ditingkatkan.
Pentingnya kolaborasi antar lembaga dan sektor untuk menghadapi risiko pemalsuan obat juga disoroti. Hal ini untuk menjamin keamanan produk yang beredar di pasaran.
Kolaborasi dan Etika Profesi: Pilar Penguatan BPOM
Kepala BPOM menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan koordinasi antarlembaga. Peredaran obat ilegal masih menjadi masalah serius yang perlu diatasi bersama.
Integritas dan loyalitas seluruh jajaran BPOM juga ditekankan. Etika profesi dan pengabdian kepada masyarakat harus menjadi landasan kerja seluruh pegawai BPOM.
Semangat ini, menurut Kepala BPOM, harus dijaga di semua level organisasi, tidak hanya pada pimpinan saja.
Langkah-langkah Strategis BPOM ke Depan
- Meningkatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri.
- Menerapkan teknologi dan metode pengawasan terbaru untuk mendeteksi obat ilegal dan palsu.
- Memastikan proses inovasi obat dilakukan secara aman dan bertanggung jawab.
- Meningkatkan edukasi dan kesadaran masyarakat terkait penggunaan obat yang aman.
Pelantikan William Adi Teja diharapkan mampu memperkuat langkah BPOM dalam menghadapi dinamika industri farmasi global. Hal ini termasuk mencegah peredaran obat ilegal dan mendorong inovasi obat yang aman dan bertanggung jawab.
Kepala BPOM mengajak seluruh jajaran untuk terus bersinergi dengan pemangku kepentingan. Harapannya, BPOM selalu mampu menjalankan amanahnya dalam melayani masyarakat Indonesia.
Dengan langkah-langkah strategis dan komitmen yang kuat, BPOM diharapkan mampu menjaga keamanan dan kualitas obat-obatan di Indonesia, melindungi masyarakat dari ancaman obat-obatan ilegal dan palsu, serta memastikan akses masyarakat terhadap obat-obatan yang aman, bermutu, dan berkhasiat di tengah perubahan dinamika industri farmasi global.





