Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, memastikan tidak akan ada antrean panjang saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMP Negeri tahun 2025. Sistem pendaftaran sepenuhnya online, menghilangkan kebutuhan masyarakat untuk datang langsung ke sekolah.
Keputusan ini diambil untuk mencegah pengulangan kejadian tahun lalu, di mana orang tua siswa rela mengantre berjam-jam bahkan sejak subuh untuk mendapatkan PIN pendaftaran. Eri Cahyadi menekankan komitmennya untuk menciptakan proses PPDB yang lebih efisien dan nyaman.
Pendaftaran SMPN Surabaya 100 Persen Online
Sistem online untuk PPDB SMPN Surabaya tahun 2025 dirancang untuk menghilangkan antrean. Seluruh proses, termasuk pengambilan Personal Identification Number (PIN), dilakukan secara digital.
Dengan sistem ini, orang tua tidak perlu lagi datang ke sekolah untuk mengambil PIN. Mereka dapat mengakses dan menyelesaikan proses pendaftaran dari rumah masing-masing.
Eri Cahyadi telah menginstruksikan Dinas Pendidikan Surabaya untuk memastikan kelancaran sistem online ini. Pihaknya menjamin tidak akan ada antrean, baik saat pengambilan PIN maupun proses pendaftaran lainnya.
Peran Guru dalam Membantu Pendaftaran
Meskipun sistem pendaftaran sepenuhnya online, Pemerintah Kota Surabaya tetap menyediakan bantuan bagi orang tua yang mengalami kesulitan teknis. Guru kelas 6 SD akan berperan aktif memantau dan membantu siswa yang membutuhkan.
Para guru akan memastikan seluruh siswa di kelasnya telah mendaftar dan mendapatkan PIN. Mereka siap memberikan pendampingan bagi siswa yang mengalami kendala dalam proses pendaftaran online.
Dengan dukungan dari guru, diharapkan tidak ada siswa yang terlewatkan dalam proses PPDB. Sistem bantuan ini dirancang untuk memastikan akses yang merata dan mudah bagi semua calon siswa.
Kontras dengan Pengalaman PPDB SMA 2025
Berbeda dengan PPDB SMPN, PPDB SMA Negeri di Surabaya tahun ini masih diwarnai antrean panjang. Banyak orang tua siswa rela mengantre sejak subuh untuk mendapatkan PIN pendaftaran.
Salah satu wali murid, Anita, warga Simolawang, misalnya, mengaku telah menunggu sejak pukul 04.00 WIB di SMAN 8 Surabaya. Ia bahkan mengaku telah mencoba di beberapa sekolah lain namun gagal mendapatkan PIN karena kuota penuh.
Pengalaman Anita menggambarkan tantangan yang masih dihadapi dalam sistem PPDB SMA, menunjukkan perlunya perbaikan dan peningkatan efisiensi sistem di masa mendatang.
Perbedaan pengalaman PPDB SMA dan SMP ini menjadi sorotan penting. Suksesnya sistem online di jenjang SMP diharapkan dapat menjadi contoh dan acuan untuk perbaikan sistem di jenjang pendidikan lainnya.
Ke depannya, diharapkan sistem PPDB di seluruh jenjang pendidikan di Surabaya dapat sepenuhnya terintegrasi dan efisien, menghilangkan antrean dan memastikan akses yang adil bagi seluruh calon peserta didik.
Dengan sistem online yang terintegrasi, diharapkan PPDB Surabaya akan lebih transparan dan akuntabel. Hal ini akan menciptakan lingkungan yang kondusif dan terbebas dari praktik-praktik yang tidak terpuji.
Wali Kota Eri Cahyadi berharap, perbaikan sistem PPDB ini dapat memberikan pengalaman yang lebih positif bagi orang tua dan calon siswa, menciptakan proses penerimaan siswa yang lebih mudah, nyaman, dan adil.





