Serangan rudal Iran ke sejumlah kota di Israel, termasuk Tel Aviv dan Haifa, memaksa warga sipil bersembunyi di berbagai tempat perlindungan darurat. Kejadian ini merupakan balasan atas serangan udara Israel ke fasilitas militer dan nuklir Iran pada Jumat, 13 Juni 2025.
Serangan Israel tersebut mengakibatkan lebih dari 224 korban jiwa dan 1.481 luka-luka, mayoritas warga sipil. Selain itu, sejumlah pejabat penting Iran dari berbagai sektor juga tewas dalam serangan tersebut.
Serangan Balasan Iran dan Dampaknya yang Luas
Sebagai respons, Iran meluncurkan ratusan rudal ke Tel Aviv dan kota-kota lain di Israel. Serangan ini mengakibatkan sedikitnya 24 kematian dan ratusan cedera.
Institut Sains Weizmann di Rehovot, pusat riset ilmiah dan militer Israel, menjadi salah satu lokasi yang paling parah terdampak. Laboratorium hancur, kaca pecah berserakan, dan infrastruktur bangunan rusak berat.
Jenia Kerimov, kandidat doktor bidang biologi yang tinggal di dekat lokasi, menggambarkan kerusakan tersebut bukan hanya sekadar kerusakan bangunan. Puluhan tahun penelitian, peralatan berharga, dan data berharga terancam hilang selamanya.
Warga Israel Berlomba Mencari Perlindungan
Kejadian ini membuat banyak warga Israel mencari perlindungan. Tempat penampungan darurat dipenuhi warga yang panik.
Gil Simchon, seorang warga Israel, menceritakan pengalaman pertamanya mengungsi. Meskipun selama ini mendengar ancaman dari Iran, baru kali ini ia merasakan langsung dampaknya, melihat gedung-gedung tinggi di Tel Aviv dihantam rudal.
Tidak semua warga memiliki akses ke bunker. Di gedung-gedung tua Yerusalem Barat, anak-anak tidur di tangga bersama orang tua mereka. Di Tel Aviv, tangga darurat menjadi tempat berlindung dadakan bagi banyak keluarga.
Yacov Shemesh, seorang pensiunan pekerja sosial, menceritakan pengalamannya melihat cahaya dan ledakan dari atap gedungnya. Ia mempertanyakan mengapa pemerintah seolah-olah tidak mempublikasikan informasi tentang serangan tersebut.
Kekhawatiran juga meningkat terkait pasokan listrik dan bahan bakar. Antrean panjang terlihat di SPBU, sementara di toko kelontong, warga terlihat cemas mengikuti perkembangan berita melalui ponsel mereka.
Kecemasan, Kebingungan, dan Keraguan
Pemerintah Israel berjanji akan membalas serangan Iran. Namun, di tempat-tempat perlindungan, suasana yang dominan adalah kelelahan dan kebingungan, bukan patriotisme.
Gil, warga yang sebelumnya disebutkan, mengungkapkan kebingungannya dalam situasi ini. Ia mempertanyakan siklus kekerasan yang tak berujung, di mana perlindungan diri terasa semakin sulit.
Eran, seorang warga Israel yang tinggal di New York, mengungkapkan kecemasan yang dirasakan keluarganya di Beit Shemesh. Ia menceritakan bagaimana tempat perlindungan penuh sesak, dan keluarga menemukan serpihan rudal pencegat di halaman rumah mereka.
Eran, yang pernah menentang wajib militer, sering mengkritik kebijakan pemerintah Israel. Konflik saat ini semakin memperkuat keraguannya terhadap kemampuan pemerintah melindungi warganya.
Ia mempertanyakan klaim pemerintah yang bertindak atas nama seluruh orang Yahudi, sementara kebijakan Israel di Gaza dan tempat lain justru membawa bahaya bagi keluarganya, bahkan hingga ke New York.
Pemerintah Israel meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan video atau foto serangan di media sosial untuk mencegah kepanikan massal. Namun, di malam-malam awal serangan, banyak video beredar di media sosial, menampilkan gedung-gedung terbakar dan warga berlarian menyelamatkan diri.
Meskipun pemerintah berupaya meredam situasi, pengalaman traumatis warga Israel selama serangan rudal ini akan meninggalkan jejak mendalam dan memicu pertanyaan mendasar tentang keamanan dan masa depan. Reaksi internasional terhadap kejadian ini tentu akan menjadi faktor penting dalam perkembangan konflik selanjutnya.





