Krisis Iran: Warga Mengungsi, Timbun Makanan, Situasi Darurat?

Krisis Iran: Warga Mengungsi, Timbun Makanan, Situasi Darurat?
Sumber: Kompas.com

Ketegangan di Teheran meningkat tajam. Ribuan warga dilaporkan meninggalkan ibu kota, menimbun kebutuhan pokok di tengah kekhawatiran akan serangan udara Israel. Peringatan langsung dari militer Israel kepada warga Iran untuk mengungsi dari beberapa wilayah memicu kepanikan massal.

Pemerintah Iran menyebut peringatan tersebut sebagai “perang psikologis,” mengajak warga tetap tenang. Namun, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Kemacetan panjang terjadi di jalan-jalan keluar Teheran.

Kepanikan Warga Teheran

Shahriyar, warga Teheran berusia 38 tahun, mengungkapkan kebingungannya. Ia tak tahu harus mengungsi ke mana dan berapa lama harus meninggalkan rumahnya.

Arshia (29), seorang guru seni, menceritakan keluarganya memilih mengungsi ke Damavand, kota kecil sekitar 50 kilometer dari Teheran. Ketakutan atas serangan tanpa peringatan dan minimnya tempat perlindungan publik mendorong keputusan tersebut.

Pemerintah Iran memang telah membangun fasilitas militer bawah tanah, namun belum menyediakan tempat perlindungan publik yang memadai. Masjid, sekolah, dan stasiun kereta bawah tanah telah dibuka 24 jam sebagai tempat perlindungan darurat sejak Minggu (15/6/2025).

Namun, kekhawatiran tetap membayangi warga. Gholamreza Mohammadi (48), seorang pegawai pemerintah, mengungkapkan kesulitan menarik uang tunai dan kenaikan harga kebutuhan pokok. Anak-anaknya juga trauma akibat suara ledakan.

Korban Jiwa dan Gangguan Komunikasi

Pejabat Iran melaporkan sedikitnya 224 korban tewas akibat serangan, sebagian besar warga sipil. Sebanyak 24 warga sipil Israel juga dilaporkan tewas dalam serangan balasan Iran.

Akses internet di Iran terganggu. NetBlocks mencatat penurunan hampir 50 persen koneksi internet internasional sejak serangan Israel dimulai Jumat (14/6/2025).

Pihak berwenang memperingatkan warga agar tidak berhubungan dengan pihak Israel. Puluhan orang ditangkap atas tuduhan mata-mata dan penyebaran informasi palsu.

Ancaman Krisis Pangan dan Obat-obatan

Ketakutan akan kekurangan bahan pokok mendorong warga memborong makanan, air, dan gas memasak. Lonjakan permintaan terjadi dalam dua hari terakhir. Apotek juga dibanjiri pembeli.

Ramin (48), seorang apoteker, menyebutkan lonjakan pembelian obat, terutama oleh lansia yang khawatir kehabisan persediaan. Milisi Basij mendirikan pos pemeriksaan untuk mencegah sabotase.

Mohammad (45) mengirim keluarganya ke kampung halaman di selatan Iran. Ia harus tetap di Teheran karena pekerjaan, namun memprioritaskan keselamatan keluarganya.

Maryam (33), seorang guru, menggambarkan serangan Senin malam (16/6/2025) lebih dahsyat. Banyak temannya telah mengungsi, dan mereka pun berencana menyusul, namun terkendala keterbatasan uang tunai.

Beberapa bank membatasi jumlah penarikan uang tunai, misalnya hanya 32 dolar AS per transaksi. Kekhawatiran kehabisan uang tunai menjadi penyebabnya.

Meskipun pemerintah mengklaim pasokan makanan dan obat-obatan masih aman, sebagian warga tetap memilih bersiaga. Zeynab (67), pensiunan pegawai bank, mengungkapkan ketidakpercayaannya pada pemerintah dan memilih untuk menimbun kebutuhan untuk dirinya, anak, dan cucunya.

Situasi di Teheran mencerminkan kepanikan yang meluas di tengah masyarakat. Perang Israel-Iran menimbulkan penderitaan bagi warga sipil, memicu krisis kemanusiaan yang kompleks dan belum terlihat ujungnya.

Pos terkait