Kisah Inspiratif 60 Tahun Kompas: Catatan Pribadi Chappy Hakim

Kisah Inspiratif 60 Tahun Kompas: Catatan Pribadi Chappy Hakim
Sumber: Kompas.com

Kompas, media yang telah setia menemani perjalanan bangsa Indonesia selama enam dekade, baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-60. Perjalanan panjang ini merupakan tonggak sejarah penting bagi jurnalisme Indonesia, menunjukkan komitmen terhadap kebenaran dan pencerahan.

Sebagai salah satu pembaca setia dan mantan penulis opini Kompas, Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim berbagi kenangan dan refleksi perjalanan panjang media ini.

Lebih dari Sekadar Media, Kompas Adalah Institusi

Hubungan Chappy Hakim dengan Kompas bukan sekadar hubungan pembaca dan media. Ia pernah menjadi bagian dari keluarga besar Kompas sebagai penulis opini sejak tahun 1980-an.

Menulis di Kompas kala itu bukanlah hal mudah. Setiap naskah melewati proses penyaringan ketat untuk memastikan nilai mencerdaskan bagi publik.

Kenangan pertama kali tulisannya dimuat di rubrik opini menjadi momen tak terlupakan baginya. Ia merasa turut berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tulisan-Tulisan Bersejarah yang Menghebohkan

Beberapa tulisannya di Kompas versi cetak bahkan sampai menghebohkan publik. Salah satunya adalah artikel “Bom Waktu di Soekarno-Hatta,” yang dimuat di halaman pertama.

Artikel ini membahas risiko sistem keselamatan di Bandara Soekarno-Hatta dan memicu diskusi nasional tentang perlunya pembenahan sistem penerbangan sipil.

Keberanian Kompas memuat opini sensitif seperti ini menunjukkan komitmen pada objektivitas dan penyampaian isu penting.

Tulisannya di Kompas juga sering mengangkat tema penerbangan, pertahanan, kepemimpinan, dan bahkan sepak bola.

Artikel lain yang menimbulkan kehebohan adalah tulisan awal Juli 2003 tentang insiden F-16 TNI AU yang mencegat F-18 milik US Navy di wilayah udara Indonesia.

Artikel ini dimuat berkat bantuan Dudi Sudibyo, jurnalis dirgantara terkemuka Indonesia, dan menjadi berita pertama yang terang dan faktual dari sumber KSAU RI.

Dari Kompas Cetak hingga Kompasiana dan Kompas.com

Sekitar tahun 2009, Chappy Hakim mulai menulis di Kompasiana. Platform ini memungkinkannya untuk berbagi gagasan dengan lebih merdeka.

Dari Kompasiana, lahir buku “Cat Rambut Orang Yahudi,” kumpulan tulisan ringan namun tetap menyentil isu sosial.

Buku ini disunting oleh Pepih Nugraha dan mendapat kata sambutan dari almarhum Jakob Oetama, yang membandingkan gaya tulisannya dengan Mahbub Djunaidi.

Pada tahun 2019, ia diundang oleh Wisnu Nugroho, Pemimpin Redaksi Kompas.com, untuk menulis secara rutin di portal digital tersebut.

Selama empat tahun, ia mengisi kolom di Kompas.com, menghasilkan empat jilid buku berjudul “Defense and Aviation”.

Puncaknya, Tri Agung Kristanto, editor senior Kompas, menyusun kembali tulisan-tulisannya dari kolom opini koran Kompas menjadi buku “Pesawat Terbang Itu Berbahaya”.

Buku ini menjadi hadiah ulang tahun untuknya, simbol indahnya kolaborasi dan persahabatan.

Kompas: Benteng Nalar dan Penjaga Demokrasi

Di usia 60 tahun, Kompas telah membuktikan kemampuannya untuk tumbuh dan bertahan di tengah gempuran era digital, tetap memegang teguh kompas moralnya.

Lebih dari sekadar media, Kompas adalah institusi, ingatan kolektif bangsa, dan sumbu nyala idealisme jurnalistik.

Chappy Hakim berharap Kompas tetap teguh dalam pendiriannya sebagai benteng nalar, penjaga demokrasi, dan pengawal kebenaran di tengah hoaks dan polarisasi politik.

Ia menekankan pentingnya peran media seperti Kompas, yang tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga memberikan arah dan pendidikan bagi bangsa.

Selamat ulang tahun ke-60, Kompas! Semoga terus berkarya dan menjadi penerang bagi Indonesia.

Jakarta, 27 Juni 2025

Chappy Hakim

Pusat Studi Air Power Indonesia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *