Serangan Israel ke fasilitas nuklir Iran, khususnya fasilitas Fordow yang terkubur dalam, telah memicu spekulasi luas. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan tujuan serangan tersebut adalah menghancurkan kemampuan nuklir Iran. Namun, mantan kepala dinas intelijen MI6, Sir John Sawers, meragukan kemampuan militer Israel untuk mencapai hal tersebut. Sawers menyoroti kompleksitas menghancurkan target yang terkubur jauh di bawah permukaan tanah.
Kemampuan untuk menghancurkan fasilitas seperti Fordow, yang terletak 90 meter di bawah tanah, membutuhkan persenjataan khusus. Hanya Amerika Serikat yang memiliki teknologi untuk mencapainya.
Senjata Rahasia AS: GBU-57A/B Massive Ordnance Penetrator
GBU-57A/B Massive Ordnance Penetrator (MOP), bom seberat 13.600 kg, dirancang khusus untuk menghancurkan bunker dan terowongan bawah tanah. Dengan panjang enam meter, bom ini mampu menembus hingga 61 meter di bawah permukaan tanah.
Beberapa bom dapat dijatuhkan secara berurutan untuk meningkatkan kedalaman penetrasi. Meskipun belum pernah digunakan dalam pertempuran, MOP telah diuji di White Sands Missile Range, New Mexico. Kemampuannya jauh melebihi MOAB (Massive Ordnance Air Blast), bom seberat 9.800 kg yang pernah digunakan di Afghanistan.
Hanya pesawat B-2 Spirit milik AS yang mampu membawa MOP. Pesawat pengebom siluman ini memiliki jangkauan yang luar biasa, memungkinkan serangan ke hampir semua lokasi di dunia. Kemampuan B-2 untuk membawa dua bom MOP, dengan berat total sekitar 27.200 kg, semakin memperkuat potensi destruktifnya.
Penggunaan MOP dalam serangan ke Iran akan memerlukan dukungan udara tambahan. Pesawat F-22 dapat digunakan untuk menekan pertahanan udara Iran, sementara pesawat tanpa awak dapat menilai kerusakan dan menentukan serangan susulan. Namun, Profesor Paul Rogers memperkirakan AS hanya memiliki persediaan MOP yang terbatas, mungkin sekitar 10 hingga 20 buah.
Fasilitas Nuklir Fordow: Target Sulit
Fordow, fasilitas pengayaan uranium kedua Iran, terletak di lereng gunung dekat Qom, sekitar 95 kilometer dari Teheran. Pembangunannya dimulai sekitar tahun 2006, dan mulai beroperasi pada 2009.
Lokasi Fordow yang terkubur sekitar 80 meter di bawah tanah, ditambah perlindungan sistem rudal permukaan-ke-udara, menjadikan fasilitas ini target yang sangat sulit. Pada Maret 2023, IAEA mendeteksi partikel uranium yang diperkaya hingga 83,7 persen di Fordow, mendekati tingkat yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.
Israel telah menyatakan Fordow sebagai target utama dalam upaya untuk menghancurkan program nuklir Iran. Namun, tanpa akses ke MOP dan dukungan AS, kemampuan Israel untuk menghancurkan fasilitas ini sangat terbatas.
Peran AS dan Masa Depan Fordow
Meskipun Israel mengklaim mampu menangani Fordow dengan berbagai cara, kemungkinan besar mereka membutuhkan bantuan AS untuk menghancurkan fasilitas yang terlindungi dengan baik tersebut. Penggunaan MOP oleh AS akan memerlukan keterlibatan militer langsung, keputusan yang bergantung pada kebijakan Presiden Donald Trump.
Kelsey Davenport dari Arms Control Association menekankan bahwa selama Fordow beroperasi, Iran tetap memiliki risiko proliferasi nuklir. Iran dapat meningkatkan pengayaan uranium di lokasi tersebut atau memindahkannya ke lokasi rahasia. Bahkan dengan penggunaan MOP, keberhasilan penghancuran Fordow tidak terjamin, mengingat kedalaman dan sistem pertahanan yang ada.
Kesimpulannya, serangan Israel ke fasilitas nuklir Iran telah menimbulkan pertanyaan serius tentang kemampuan militer Israel dan peran AS dalam konflik ini. Meskipun MOP menawarkan peluang terbaik untuk menghancurkan fasilitas seperti Fordow, keberhasilannya tidak dapat dijamin, dan keterlibatan langsung AS tetap menjadi faktor penentu. Ke depan, Fordow tetap menjadi simbol tantangan kompleks dalam mencegah proliferasi nuklir di Timur Tengah.





