Serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada Sabtu, 21 Juni 2025, oleh Amerika Serikat menandai ancaman paling serius yang dihadapi Teheran dalam beberapa dekade terakhir. Serangan tersebut, yang dilakukan bersama Israel, meninggalkan Iran hampir sendirian menghadapi gempuran musuh. Dukungan dari sekutu-sekutunya terbukti terbatas, menunjukkan keretakan dalam strategi regional Iran yang telah berlangsung lama.
Kurangnya bantuan nyata dari negara-negara sekutu menyoroti isolasi yang dihadapi Iran. Hizbullah, Houthi, dan Hamas, yang selama ini menjadi pilar kekuatan proksi Iran, tampak melemah dan tidak mampu memberikan dukungan substansial. Demikian pula, Rusia dan China, meski mengeluarkan kecaman, enggan memberikan bantuan militer atau diplomatik yang berarti.
Strategi Proksi Iran Runtuh
Selama bertahun-tahun, Iran telah membangun jaringan milisi proksi yang luas di Timur Tengah. Investasi besar dalam bentuk dana, persenjataan, dan pelatihan telah menghasilkan kekuatan signifikan yang mampu menekan musuh-musuh Iran, terutama Israel. Jaringan ini memungkinkan Teheran mempertahankan konflik jauh dari wilayahnya sendiri, merupakan strategi kunci dalam kebijakan luar negeri Iran.
Puncak kekuatan jaringan proksi ini terlihat sekitar tahun 2020. Namun, kematian Jenderal Qassem Soleimani pada tahun yang sama menjadi titik balik. Kehilangan sosok sentral tersebut melemahkan koordinasi dan membuat jaringan proksi lebih rentan terhadap infiltrasi intelijen Israel.
Upaya pengganti Soleimani untuk sentralisasi justru membuat struktur jaringan proksi menjadi kaku dan mudah ditembus. Serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023 juga menjadi pukulan telak, mengurangi kemampuan militer Hamas secara signifikan. Hizbullah di Lebanon pun mengalami kemunduran akibat serangan Israel. Keruntuhan rezim Assad di Suriah pada Desember lalu semakin memperburuk situasi, memutus jalur pasokan senjata utama Iran ke Lebanon.
Keengganan Iran untuk Intervensi Langsung
Yang mengejutkan, Iran memilih untuk tidak melakukan intervensi langsung dalam konflik yang melibatkan proksi-proksinya. Sikap pasif ini telah menggoyahkan kepercayaan sekutu-sekutunya. Hizbullah dan milisi Irak menghadapi tekanan domestik untuk tidak terlibat dalam eskalasi konflik. Houthi, yang sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata dengan AS, kini masih belum menunjukkan reaksi jelas terhadap serangan langsung AS ke Iran.
Ketidakpasifan Iran menunjukkan perubahan signifikan dalam strategi regionalnya. Kepercayaan sekutu-sekutu Iran terhadap kemampuan dan komitmen Teheran untuk melindungi mereka telah menurun drastis. Hal ini membuat posisi Iran semakin lemah dalam menghadapi tekanan dari AS dan Israel.
Rusia dan China Menjaga Jarak, Negara Arab Tetap Netral
Meskipun mengecam serangan AS dan Israel, Rusia dan China tidak memberikan bantuan militer atau diplomatik yang berarti. Rusia, yang tengah berjuang dalam perang di Ukraina, tampaknya khawatir akan merusak hubungannya dengan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. China juga enggan terlibat dalam konflik yang berpotensi mengganggu stabilitas regional.
Negara-negara Arab menunjukkan sikap netral. Beberapa negara bahkan diam-diam melanjutkan dialog dengan Israel, berharap untuk melihat Iran terkendali. Sikap ini menunjukkan perubahan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, di mana Iran kehilangan pengaruhnya secara signifikan. Isolasi yang dialami Iran saat ini belum pernah terjadi sejak akhir perang Iran-Irak.
Iran kini menghadapi ancaman eksistensial. Kehilangan sekutu dan dukungan internasional, serta ketidakmampuannya untuk melindungi proksi-proksinya, telah membuat Iran semakin terisolasi di kancah internasional. Masa depan Iran di Timur Tengah tergantung pada bagaimana Teheran mampu merespon tantangan yang ada, dan membangun kembali pengaruhnya yang telah merosot.





