Gaya komunikasi politik Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang lugas dan “to the point” sedang menjadi perbincangan. Hal ini mendapatkan respons positif dari Ketua Media dan Penggalangan Opini (MPO) Partai Golkar, Nurul Arifin.
Nurul menilai, komunikasi Bahlil merupakan model komunikasi politik modern yang efektif dan dekat dengan rakyat. Kemampuannya menyampaikan pesan dengan jelas dan lugas menjadi nilai tambah yang signifikan di tengah dinamika politik saat ini.
Gaya Komunikasi “Bahlilian Style”: Sederhana namun Mengena
Nurul Arifin memuji gaya komunikasi Bahlil yang “apa adanya” dan “to the point”, menyebutnya sebagai “Bahlilian Style”. Ia melihat ini sebagai contoh komunikasi *low-context* yang menekankan keterbukaan, kejujuran, dan efektivitas.
Baginya, ini bukan sekadar blak-blakan, melainkan kemampuan menyampaikan pesan yang menyentuh logika dan nalar publik. Bahlil mampu menyampaikan kritik dan arahan dengan sederhana namun tetap tepat sasaran.
Sebagai contoh, Nurul mencontohkan bagaimana Bahlil mengkritik rendahnya etos kerja tenaga kerja lokal dengan cara yang lugas dan mudah dipahami masyarakat. Pernyataan tersebut bukan sekadar kritik, tetapi juga bentuk motivasi yang disampaikan secara efektif.
Membangun Kepercayaan Publik melalui Komunikasi yang Transparan
Nurul meyakini gaya komunikasi Bahlil menjadi kekuatan strategis dalam membangun kepercayaan publik. Kejujuran dan integritas yang ditunjukkannya dalam setiap ucapan dinilai sangat penting.
Kemampuan Bahlil untuk berbicara dengan tegas dan menunjukkan integritas dianggap sebagai kualitas langka yang dibutuhkan dalam politik Indonesia saat ini. Ia hadir sebagai sosok yang tulus dan berani menyampaikan kebenaran.
Relevansi dengan Transformasi Partai Golkar
Gaya komunikasi Bahlil dinilai sangat relevan dengan transformasi Partai Golkar untuk kembali menjadi kekuatan utama di kancah politik nasional.
Partai Golkar membutuhkan pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan jelas, menjawab berbagai persoalan secara lugas, dan menyampaikan visi partai dengan bahasa yang mudah dipahami. Bahlil dianggap memenuhi kriteria tersebut.
Dosen Fisip Universitas Negeri Surabaya, Ken Bimo Sultoni, turut mengomentari gaya komunikasi Bahlil dalam konteks teori “Low-Context Communication”. Ia menjelaskan bahwa gaya komunikasi Bahlil menekankan pesan yang eksplisit, transparan, dan langsung.
Ken Bimo Sultoni juga menciptakan istilah “Bahlilian Style” untuk menggambarkan warna baru dalam komunikasi politik Indonesia yang kerap kali bersifat retoris dan basa-basi.
Menurut Ken, Bahlil memiliki karakter komunikasi yang lugas dan langsung ke inti permasalahan, minim retorika. Ini merupakan pendekatan yang jarang dimiliki politisi Indonesia pada umumnya.
Kesimpulannya, gaya komunikasi Bahlil Lahadalia yang lugas dan transparan, dikenal sebagai “Bahlilian Style,” mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak. Hal ini dipandang sebagai model komunikasi politik modern yang efektif, membangun kepercayaan publik, dan selaras dengan upaya Partai Golkar untuk melakukan transformasi dan memperkuat posisinya di kancah politik nasional. Keberanian dan kejujuran dalam menyampaikan pesan menjadi kunci keberhasilan komunikasi Bahlil. Kemampuannya ini memberikan contoh baru bagi komunikasi politik di Indonesia.





