Menara Sentral Pamekasan: Sejarah Air Kolonial Terungkap

Menara Sentral Pamekasan: Sejarah Air Kolonial Terungkap
Sumber: Kompas.com

Di jantung Kabupaten Pamekasan, berdiri megah sebuah menara berwarna biru. Bangunan peninggalan kolonial Belanda ini lebih dari sekadar monumen sejarah; ia adalah saksi bisu perjalanan panjang penyediaan air bersih di kota tersebut.

Dikenal sebagai “Sentral” oleh masyarakat setempat, menara air ini telah berdiri sejak tahun 1927. Tingginya 25 meter dan lebarnya 11 meter, menjulang gagah dengan delapan tiang penyangga yang kokoh.

Menara Sentral: Jantung Sistem Air Pamekasan Era Kolonial

Menara air ini, yang terletak di sisi utara Monumen Arek Lancor, Kelurahan Barurambat Kota, Pamekasan, merupakan pusat sistem penyediaan air di masa pemerintahan kolonial Belanda.

Konstruksinya yang kokoh dan desainnya yang unik menjadikannya landmark penting di kota Pamekasan.

Halifaturrahman, seorang tokoh budaya Pamekasan, menjelaskan bahwa menara ini merupakan bangunan tertinggi di jantung kota pada masanya. Ia menjadi simbol kekuasaan kolonial Belanda.

Teknologi Canggih Masa Lalu: Pipa Bawah Tanah dan Sumber Air Omben

Sistem penyediaan air menara sentral memanfaatkan sumber mata air besar di Kecamatan Omben, Sampang. Pipa bawah tanah berdiameter 6 inci dan terbuat dari besi, membentang puluhan kilometer.

Sistem ini mengandalkan kekuatan alamiah. Air mengalir dari sumber Omben ke Pamekasan memanfaatkan perbedaan ketinggian, tanpa bantuan mesin pompa.

Debit air yang luar biasa dari sumber Omben, mencapai 400 liter per detik, menjadi kunci keberhasilan sistem ini.

Selain menara sentral, Belanda juga membangun beberapa tandon air kecil di berbagai lokasi di Pamekasan untuk mendistribusikan air ke masyarakat.

Lebih dari Sekadar Tandon Air: Fungsi Multiguna Menara Sentral

Menara Sentral tak hanya berfungsi sebagai tandon air. Dulunya, menara ini juga dilengkapi sirine yang suaranya terdengar hingga radius yang sangat jauh.

Sirine ini digunakan untuk memberi peringatan kepada masyarakat akan aktivitas militer kolonial Belanda. Bahkan, sempat digunakan sebagai penanda waktu berbuka puasa.

Agus Bachtiar, mantan Kepala PDAM Pamekasan, menambahkan bahwa menara ini juga berperan sebagai pendukung generator listrik untuk kota.

Fasilitas pendukung tersebut berada di sekitar tembok menara, menjadikannya pusat utilitas penting bagi pemerintahan kolonial.

Hingga kini, menara sentral masih berfungsi, meskipun kapasitasnya telah berkurang. Dahulu mampu menampung 60.000 liter air dan melayani 10.000 pelanggan, saat ini kapasitasnya sudah berkurang.

Perubahan sistem distribusi air juga menjadi faktor berkurangnya kapasitas pelayanan menara air tersebut. Namun demikian, keberadaannya tetap menjadi bukti sejarah yang berharga bagi Pamekasan.

Sebagai catatan bersejarah, Agus Bachtiar secara khusus telah mendokumentasikan foto-foto sejarah Menara Sentral untuk melestarikan sejarah bangunan tersebut.

Menara Sentral tidak hanya menjadi sumber air bagi masyarakat Pamekasan di masa lalu, tetapi juga menjadi simbol kekuasaan kolonial dan bukti ketekunan dalam membangun infrastruktur meskipun teknologi masih sederhana. Kini, menara ini menjadi warisan bersejarah yang tetap relevan dan menyimpan kisah panjang tentang sejarah Pamekasan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *