Pernahkah Anda mengalami momen ketika pikiran tiba-tiba menjadi kosong? Rasanya seperti informasi penting, bahkan nama seseorang yang baru saja Anda temui, lenyap begitu saja. Fenomena ini, yang dikenal sebagai *mind blanking* atau otak kosong, ternyata lebih umum daripada yang kita bayangkan. Penelitian menunjukkan bahwa otak kita berada dalam kondisi “kosong” hingga 20 persen dari waktu tertentu.
Meskipun masih menjadi misteri bagi para ahli saraf, penelitian terbaru berupaya mengungkap lebih dalam tentang *mind blanking*. Memahami fenomena ini ternyata tidak mudah, karena kurangnya definisi baku yang disepakati secara universal.
Apa Itu Otak Kosong (Mind Blanking)?
Athena Demertzi, seorang ahli saraf kognitif dari University of Liège, mengungkapkan tantangan dalam mendefinisikan *mind blanking*. Dalam tinjauannya, ia mencatat setidaknya tujuh definisi berbeda untuk fenomena ini. Ia sendiri cenderung mendefinisikan *mind blanking* sebagai “kesan tidak memiliki pikiran atau tidak mampu menjelaskan pikiran apa pun.”
Definisi yang sengaja dibuat samar ini bertujuan mengakomodasi berbagai cara seseorang menggambarkan kondisi tersebut. Contohnya, ungkapan seperti “Saya tidak ingat apa yang saya pikirkan” atau “Saya tidak fokus” semuanya bisa termasuk dalam *mind blanking*. Hal ini menyulitkan peneliti untuk menghubungkan proses otak lain, seperti memori, dalam penelitian mereka.
Jenis-jenis Mind Blanking dan Aktivitas Otak
Dengan definisi yang lebih luas ini, Demertzi berusaha mengklasifikasikan berbagai jenis *mind blanking*. Salah satu alat utama untuk mengamati aktivitas otak adalah pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI).
Peneliti fMRI sering meminta sukarelawan untuk “tidak memikirkan apa pun” saat berada di dalam pemindai. Hasilnya menunjukkan adanya aktivitas di bagian tengah otak, seperti korteks cingulate. Namun, sinyal ini bukan penanda pikiran kosong, melainkan indikator upaya kognitif untuk menekan pikiran.
Dalam penelitian tahun 2023, tim Demertzi menggunakan strategi yang berbeda. Mereka memantau otak orang-orang yang beristirahat di dalam pemindai. Pada interval acak, peserta diminta melaporkan apa yang mereka pikirkan. Tim menganalisis pola aktivitas otak beberapa detik sebelum respons.
Hasilnya menunjukkan bahwa otak individu yang melaporkan pikiran kosong menunjukkan sinyal berbeda, yaitu pola sinkronisasi sesaat dari jaringan otak. “Semuanya menjadi tidak aktif. Sinyal ini juga terlihat selama tidur atau anestesi,” kata Demertzi.
Hubungan Mind Blanking dengan Tingkat Arousal dan Kondisi Klinis
Penelitian lain menunjukkan adanya hubungan kuat antara *mind blanking* dan tingkat stimulasi otak, yang disebut arousal. Ketika tingkat arousal rendah, *mind blanking* lebih mungkin terjadi. Arousal yang tinggi dibutuhkan untuk mempertahankan aliran pikiran yang berkelanjutan.
Namun, arousal yang terlalu tinggi juga berkonsekuensi. Tingkat arousal yang berlebihan dapat berubah menjadi kecemasan, yang justru menghambat kinerja. Kecemasan dapat menyebabkan pikiran berpacu, mengaburkan ide-ide individual dan membuatnya sulit diingat—sebuah bentuk lain dari *mind blanking*.
Dalam beberapa kasus, *mind blanking* bisa menjadi ciri kondisi klinis. Anak-anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang tidak diobati, misalnya, mengalami *mind blanking* lebih sering daripada anak-anak tanpa ADHD. Gangguan kecemasan umum juga mencakup *mind blanking* sebagai salah satu gejalanya.
Mengapa *mind blanking* terjadi? Ini masih menjadi pertanyaan utama bagi para peneliti. Demertzi menduga hubungannya dengan tidur dan arousal mungkin menjadi petunjuk. “Ketika kita tidur, neuron kita beristirahat dengan membuang apa yang telah terakumulasi sepanjang hari melalui sistem glimfatik,” jelasnya. Lebih banyak penelitian diperlukan untuk memahami sepenuhnya fenomena ini. Namun, penelitian terbaru telah memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang proses neurologis di balik *mind blanking*, membuka jalan untuk riset lebih lanjut di masa depan.
