Tragedi kecelakaan pesawat Air India di Ahmedabad, India, pada 12 Juni 2025, telah meninggalkan duka mendalam bagi banyak keluarga. Lebih dari 265 orang meninggal dunia dalam peristiwa nahas tersebut, termasuk penumpang dan awak pesawat, serta warga sipil di darat. Kejadian ini menjadi salah satu kecelakaan pesawat paling mematikan di India dalam beberapa dekade terakhir.
Bagi keluarga korban, peristiwa ini merupakan pukulan yang sangat berat. Kegembiraan mengantar putra atau anggota keluarga untuk memulai babak baru di luar negeri berubah menjadi kepedihan yang mendalam. Harapan yang tadinya membuncah kini sirna, digantikan oleh kesedihan yang tak terperi.
Duka Mendalam Keluarga Korban
Sangeeta Gauswami, misalnya, baru dua hari sebelumnya memeluk putranya, Sanket (19 tahun), yang akan memulai pendidikan di London. Kurang dari 24 jam kemudian, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa putranya menjadi korban kecelakaan. Rasa terkejut dan berduka menyelimuti dirinya.
Ibu Sanket menyatakan kesedihannya yang mendalam karena tidak mendapatkan kabar apapun tentang putranya hingga akhirnya harus memberikan sampel DNA untuk proses identifikasi. Kisah serupa dialami oleh keluarga-keluarga korban lainnya.
Sunny Kakadia, teman dekat Javed Ali Syed yang juga menjadi korban bersama istri dan dua anaknya, merasakan duka yang sama dalam. Kakadia mengantar temannya ke bandara, tak menyangka itu menjadi pertemuan terakhir mereka.
Javed, warga negara Inggris yang bekerja di manajemen hotel di London, pulang ke India untuk menjenguk ibunya yang sakit. Kepergiannya bersama keluarga meninggalkan kesedihan mendalam bagi Kakadia dan banyak orang yang mengenalnya.
Proses Identifikasi Jenazah dan Pengumpulan Sampel DNA
Tiga pejabat dari Pasukan Tanggap Bencana Nasional India telah menemukan perekam penerbangan. Temuan ini diharapkan dapat membantu mengungkap penyebab kecelakaan dan memberikan sedikit kejelasan bagi keluarga korban.
Di tengah duka yang mendalam, keluarga korban rela memberikan sampel DNA mereka untuk mempercepat proses identifikasi jenazah. Proses ini melibatkan pengumpulan sampel dari lebih dari 190 kerabat di Rumah Sakit Sipil Ahmedabad.
Proses verifikasi sampel DNA terhadap jenazah membutuhkan waktu hingga 72 jam. Kesedihan menyelimuti rumah sakit, tempat keluarga korban berjuang menghadapi kehilangan yang mereka alami.
Kakadia mengungkapkan bahwa ia dan saudara Javed telah memberikan sampel DNA dan menunggu hasil hingga Minggu. Mereka telah berkeliling ke berbagai rumah sakit, belum sempat merasakan duka sepenuhnya.
Satu-satunya Korban Selamat dan Dukungan Pemerintah
Di tengah tragedi ini, terdapat satu-satunya korban selamat, Vishwash Kumar Ramesh, warga negara Inggris. Kisah penyelamatannya menjadi sebuah keajaiban. Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan Ramesh membantu korban lain, meskipun dirinya juga mengalami luka.
Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengunjungi lokasi kecelakaan dan bertemu dengan Ramesh di rumah sakit. Kunjungan ini menunjukkan kepedulian dan dukungan pemerintah terhadap korban dan keluarga korban.
Keluarga Manisha Thapa, seorang awak kabin, juga turut merasakan duka mendalam. Ibunya masih terguncang mengingat percakapan terakhir mereka sehari sebelum kejadian. Ayah Manisha terus menangis sejak memberikan sampel DNA.
Kecelakaan pesawat Air India ini menyisakan duka mendalam bagi banyak keluarga. Proses identifikasi jenazah dan pencarian jawaban atas penyebab kecelakaan masih terus berlanjut. Semoga kejadian ini dapat menjadi pembelajaran penting untuk meningkatkan keselamatan penerbangan di masa mendatang.
