Nyoman Sukra dan Kelompok Nelayan Prapat Agung Mengening Patasari, warga Kuta, Bali, tak tinggal diam melihat kerusakan lingkungan di kampung halaman mereka. Di balik gemerlap pariwisata Kuta yang terkenal dunia, mereka berjuang melawan pencemaran lingkungan yang mengancam keberlangsungan hidup mereka.
Mereka fokus menyelamatkan ekosistem penting, yaitu hutan mangrove dan Sungai Tukad Mati, sebuah sungai bersejarah yang kini tercemar. Upaya gigih mereka ini telah membuahkan hasil yang luar biasa, bahkan mendapatkan pengakuan nasional.
Menghidupkan Kembali Tukad Mati
Nyoman Sukra menjelaskan bahwa Sungai Tukad Mati, yang berarti “sungai mati”, pernah menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) liar pada era 1990-an akibat pesatnya perkembangan pariwisata Kuta.
Sebagai penduduk asli Kuta yang terbatas aksesnya pada ruang terbuka hijau, hutan mangrove dan sungai menjadi aset berharga yang wajib dilindungi. Mereka pun memulai inisiatif penyelamatan lingkungan ini.
Benteng Pertahanan Terakhir Kuta
Sungai Tukad Mati ternyata memiliki peran krusial sebagai benteng pertahanan terakhir terhadap banjir di Kuta, Legian, Seminyak, dan bahkan Monang Maning di Denpasar. Sungai ini merupakan muara dari sungai-sungai besar yang melintasi Badung dan Denpasar.
Inisiatif penyelamatan lingkungan di muara Tukad Mati diawali dengan pelestarian hutan mangrove seluas 12 hektare, yang kini telah berkembang menjadi hampir 25 hektare. Upaya ini telah membawa penghargaan Kalpataru 2019 dan Kalpataru Lestari 2025.
Ancaman dan Tantangan Pelestarian
Nyoman menceritakan berbagai tantangan yang dihadapi, termasuk pencurian kayu dan penebangan pohon bakau secara ilegal di kawasan hutan mangrove. Bukti-bukti perusakan lingkungan tersebut masih disimpan sebagai pelajaran berharga.
Perusakan tersebut mengancam kelestarian satwa yang hidup di wilayah hutan mangrove. Namun, berkat kerja keras mereka, kawasan yang dulunya tak layak dikunjungi kini menjadi tempat yang indah dan asri.
Kegiatan pembersihan sampah juga menjadi tantangan besar, terutama pada musim hujan. Berbagai jenis sampah, bahkan barang-barang besar seperti kasur dan kulkas, sering ditemukan. Mereka juga menemukan bangkai hewan dan beberapa jenazah yang hanyut.
Selain membersihkan sampah, kelompok ini juga mengembangkan berbagai jenis tanaman di sekitar muara Tukad Mati, mulai dari tanaman obat hingga pembibitan anggur.
Saat ini, sekitar 49 warga Kuta terlibat aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan ini. Kerja keras dan dedikasi mereka telah mengubah wajah lingkungan sekitar.
Kalpataru Lestari 2025: Pengakuan atas Dedikasi
Penghargaan Kalpataru Lestari 2025 diberikan kepada 12 pemenang Kalpataru sebelumnya yang konsisten melakukan kegiatan pelestarian lingkungan selama lima tahun berturut-turut.
Selain konsistensi, kriteria lain yang dipertimbangkan adalah dampak dan potensi replikasi program tersebut. Nyoman Sukra, yang juga dikenal sebagai Nyoman Dolphin, menerima penghargaan tersebut atas dedikasinya dalam menyelamatkan Tukad Mati dan hutan mangrove.
- Berikut 12 penerima Kalpataru Lestari 2025: Paris Sembiring (Medan), LSM Bahtera Melayu Bengkalis (Riau), Sadiman (Wonogiri), Oday Kodariyah (Bandung), Desa Adat Penglipuran (Bangli), TGH. Hasanain Juaini (Lombok Barat), Kelompok Nelayan Prapat Agung Mengening Patasari (Badung), Hamzah (Banjar), Masyarakat Dayak Iban Menua Sungai Utik (Kapuas Hulu), Herman Sasia (Sigi), Kelompok Pencinta Alam Isyo Hill’s Rhepang Muaif (Jayapura), dan Timotius Hindom (Fakfak).
Kisah Nyoman Sukra dan Kelompok Nelayan Prapat Agung Mengening Patasari merupakan inspirasi bagi kita semua untuk aktif terlibat dalam menjaga lingkungan. Dedikasi mereka dalam memulihkan ekosistem yang rusak menunjukkan bahwa upaya pelestarian lingkungan, seberapapun kecil, dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan hidup.
