Protes Nasional “No Kings”: Amerika Tolak Kebijakan Trump

Protes Nasional "No Kings": Amerika Tolak Kebijakan Trump
Sumber: Kompas.com

Gelombang protes besar-besaran melanda Amerika Serikat pada Minggu, 15 Juni 2025. Ribuan warga dari berbagai kota turun ke jalan untuk menyatakan penolakan terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump. Aksi demonstrasi yang diberi tajuk “No Kings” ini menandai unjuk rasa terbesar sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025. Protes ini bertepatan dengan parade militer megah di Washington D.C. untuk merayakan ulang tahun Presiden Trump ke-79.

Demonstran mengecam kepemimpinan Trump yang dianggap otoriter dan menyalahgunakan kekuasaan. Simbol protes yang paling mencolok adalah balon raksasa berbentuk Trump mengenakan popok, yang melayang di atas kerumunan. Poster-poster dengan slogan “No KKKings” dan “No crown for the clown” juga terlihat di berbagai lokasi demonstrasi.

Demo Nasional “No Kings”: Protes Terbesar Era Trump Kedua

Para penyelenggara mengklaim demonstrasi “No Kings” berlangsung di seluruh 50 negara bagian. Mereka menyatakan aksi ini sebagai wujud penolakan terhadap otoritarianisme, politik yang hanya menguntungkan miliarder, dan militerisasi demokrasi Amerika. Di berbagai kota, demonstran meneriakkan yel-yel protes dan menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Di Austin, Texas, Robin Breed, seorang perawat pensiunan, menyebut Trump sebagai diktator. Ia mengecam penyalahgunaan kekuasaan dan penyebaran ketakutan yang dilakukan presiden. Sentimen serupa diungkapkan oleh demonstran lain di berbagai kota, seperti di New York, Los Angeles, dan Boston.

Kekecewaan Publik dan Kritik terhadap Kebijakan Trump

Di New York, meskipun hujan deras mengguyur Fifth Avenue, puluhan ribu warga tetap berunjuk rasa. Mereka meneriakkan slogan “Hei hei, ho ho, Donald Trump harus pergi!” Aktor Susan Sarandon dan Mark Ruffalo turut bergabung dalam demonstrasi tersebut.

Polly Shulman, seorang pegawai museum, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintahan Trump. Ia mengecam kebijakan deportasi massal, khususnya deportasi lebih dari 250 warga Venezuela ke El Salvador pada Maret 2025. Shulman menganggap tindakan tersebut sebagai “penculikan”.

Parade Militer dan Eskalasi Ketegangan

Parade militer di Washington D.C. yang menelan biaya 45 juta dolar AS juga menjadi sasaran kritik. Bill Kennedy, seorang pensiunan psikolog, menyebut parade tersebut sebagai tindakan konyol dan menggambarkan pemerintahan Trump sebagai kelompok fasis.

Di Los Angeles, pengerahan 4.000 anggota Garda Nasional dan 700 marinir tanpa izin otoritas lokal memicu reaksi keras dari para demonstran. Mereka disambut dengan teriakan “Anda tidak diterima di sini”. Kelompok seni Rusia, Pussy Riot, bahkan memasang spanduk bertuliskan “Ini mulai sangat mirip Rusia” di depan balai kota. Situasi di beberapa kota memanas menjelang malam, dengan polisi menggunakan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan massa. Penangkapan terjadi di beberapa lokasi, termasuk di New York di mana sedikitnya empat orang ditangkap karena menargetkan kantor Imigrasi dan Bea Cukai (ICE). Tragedi terjadi di Salt Lake City, Utah, di mana satu orang tewas akibat penembakan selama demonstrasi. Sementara di Virginia, seorang pengemudi menabrak kelompok demonstran di Culpeper, meskipun untungnya tidak ada korban luka.

Demonstrasi “No Kings” melukiskan gambaran polarisasi politik di Amerika Serikat. Aksi protes yang meluas ini menunjukkan ketidaksetujuan publik yang signifikan terhadap kepemimpinan Presiden Trump dan kebijakan-kebijakannya. Kejadian kekerasan di beberapa lokasi menyoroti meningkatnya tensi sosial dan politik di negara tersebut. Ke depan, perlu dilakukan analisis lebih mendalam untuk memahami implikasi dari demonstrasi besar-besaran ini terhadap stabilitas politik dan sosial Amerika.

Pos terkait