Kanker Payudara: Gejala Awal, Operasi Pindah Payudara

Kanker Payudara: Gejala Awal, Operasi Pindah Payudara
Sumber: Kompas.com

Pada tahun 2024, Nicola Purdie, seorang guru geografi asal Wales, menemukan benjolan di payudaranya saat hamil anak kedua. Ini bukan pengalaman pertama baginya; dia pernah berjuang melawan kanker payudara pada tahun 2020.

Pengalaman sebelumnya melibatkan mastektomi ganda, kemoterapi, dan rekonstruksi payudara. Namun, kali ini, Purdie dan tim medisnya akan menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perjuangan Kedua Melawan Kanker Payudara

Benjolan baru ini muncul di kulit payudaranya, sisa jaringan dari operasi sebelumnya. Purdie langsung menyadari ini adalah kanker.

Kehamilannya menghalangi kemoterapi dan pemindaian rutin. Ia menjalani beberapa tes untuk memastikan kanker belum menyebar. Hasilnya menunjukkan kanker masih terbatas di payudara.

Lumpektomi dilakukan untuk mengangkat benjolan. Purdie, yang awalnya berencana melahirkan pada usia kehamilan 32 minggu, memutuskan untuk menunda persalinan hingga putranya lahir sehat pada usia 32 minggu enam hari.

Setelah putranya lahir, Purdie memulai kemoterapi, berulang-alik antara unit perawatan bayi dan ruang pengobatan. Ia menjalani 16 sesi kemoterapi hingga awal Februari.

Operasi Transplantasi Payudara: Sebuah Inovasi Medis

Tim onkologi menghadapi dilema dalam menentukan operasi yang tepat. Pilihan konvensional seperti pengangkatan dan teknik LD (latissimus dorsi) kurang ideal.

Purdie memiliki ide radikal: mencangkok payudara kirinya yang sehat ke payudara kanan yang terkena kanker. Ide ini, yang awalnya mengejutkan ahli bedah plastik, rekonstruksi, dan payudara, Reza Arya, akhirnya dipertimbangkan.

Setelah diskusi intensif dengan para ahli di seluruh Inggris, prosedur tersebut dinilai memungkinkan. Operasi ini melibatkan pemindahan seluruh area payudara kanan Purdie dan mencangkokkan payudara kiri sebagai penggantinya.

Operasi tersebut berhasil, dan dianggap sebagai yang pertama di dunia karena jaringan payudara dipindahkan ke dua lokasi berbeda. Prosedur ini memiliki risiko tinggi kegagalan, namun hasilnya menggembirakan.

Ketahanan dan Optimisme di Tengah Perjuangan

Purdie memulai radioterapi dan akan menjalani operasi rekonstruksi di sisi kiri menggunakan implan salin menjelang Natal. Dia juga akan menjalani terapi hormon selama 10 tahun.

Meskipun menghadapi tantangan yang luar biasa, Purdie tetap optimis. Ia mengakui ada saat-saat merasa putus asa, tetapi ia memilih untuk fokus pada hal-hal positif dan menghargai dukungan dari keluarga, teman, dan tim medisnya.

Anak-anaknya, bagi Purdie, adalah sumber kekuatan dan harapan di tengah perjuangannya melawan kanker. Kehadiran mereka memberikan semangat dan tujuan dalam hidupnya.

Kisah Nicola Purdie menginspirasi. Keberaniannya dalam menghadapi kanker dan inovasi medis yang dilakukan untuk menyembuhkannya merupakan bukti tekad dan harapan yang luar biasa. Semoga kisahnya menginspirasi banyak orang untuk tetap kuat dan optimis dalam menghadapi tantangan hidup.

Pos terkait